Saturday, July 4, 2009

Pro Kontra Ikan Largemouth Bass di Jepang

Habitat asli ikan largemouth bass adalah Amerika Utara. Tapi saat ini ikan largemouth bass juga sangat mudah dijumpai di perairan tawar di Jepang. Bagaimana ini bisa terjadi? Bermula pada tahun 1925 saat seorang big boss di Jepang bernama Akabishi Tetsuma mengimpor 90 ekor ikan largemouth bass dari California, USA dan kemudian melepaskan ikan-ikan itu di Ashino Lake. Pebisnis Jepang (Akabishi Tetsuma) dengan visi yang sangat jauh ini berpikiran bahwa ikan ini akan menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi Jepang di masa mendatang karena ikan ini sangat mengesankan saat dipancing dan rasa dagingnya pun enak. Apa yang dipikirkan oleh Tetsuma ini saat ini telah menjadi kenyataan. Ikan largemouth bass telah memutar uang triliun-an rupiah di industri speedboat, boat engine, tackle (alat-alat pancing) dan aksesorisnya, apparel, dan bahkan hingga video game ataupun pc game tentang mancing ikan largemouth bass.

Tetapi tahukah Anda bahwa hingga hari ini keberadaan ikan largemouth bass di perairan tawar Jepang terus menyimpan kontroversi? Selengkapnya...

* Foto Danau Ashino oleh Kasugai

Sunday, June 21, 2009

Hati Gembira Adalah Obat Yang Mujarab: Kesan Bayu Noer Rachman Menaklukkan Marlin 150 Kg By Jigging

Oleh Bayu Noer Rachman

Menjelang keberangkatan ke Aceh badan kurang sehat. Flu dan meriang. Jadi sebenarnya perasaan saya ketika berangkat ke sana agak kurang nyaman. Inginnya istirahat di Jakarta saja. Tetapi karena sudah berjanji dengan Mas Rudi dkk (Rudi Hadikesuma) satu bulan sebelumnya maka saya tetap memutuskan jalan ke Aceh dengan ditemani oleh Gilang Gumilang, salah satu kameraman Mancing Mania Trans 7. Kawan-kawan saya mengira saya akan memilih Valentine-an di Jakarta karena keberangkatan ke Aceh ini dua hari sebelum Hari Valentine, padahal bagi saya Valentine atau tidak sama saja. Gak ngaruh kaleee! Hehehe..

Selanjutnya di MancingOnline.Com

Friday, June 19, 2009

Sampai Kapan Si Cantik Bisa Bertahan?

Ujung Kulon, fishing ground di Banten yang dijuluki olah banyak pemancing sebagai “dangerously beautiful” jika kita telusuri pernah mengukuhkan dirinya sebagai yang terbaik. Lihat saja misalnya catatan Rekor Nusantara Formasi yang dicatatkan oleh Arie Sasmita pada tahun 1998 dengan black marlin 178.4 kg, ikan tersebut dipancing di Ujung Kulon. Rekor ini kemudian ‘diungguli’ oleh blue marlin-nya Susanto Nursewan seberat 179.2 kg yang dipancing di Pulau Biaro, Sulawesi Utara pada September 1998. Kemegahan potensi mancing di Ujung Kulon juga bisa kita lihat pada foto di atas yang merupakan karya jurnalis mancing generasi pertama di negeri ini, Nursasongko Anwar, yang memotretnya pada gelaran Indonesia Billfish Tournament 1994. Pada tiga foto di posting-an ini terlihat YFT yang masing-masing beratnya 79.2 kg dan 57.5 kg yang dipancing oleh pemancing Suwarjono dan Awin Mawardi.

Mari kita sama-sama melihat kenyataan saat ini. Ujung Kulon tidak semegah dahulu lagi. Kini Ujung Kulon paling efektif hanya untuk aplikasi popping dan bottom fishing saja. Untuk size ikan pun sudah sulit jika kita mengharapkan untuk selalu strike yang besar. Trolling? Sudah setengah mati deh kalau mau sukses trolling di sana. Penyebabnya? Over fishing dan konon ada bom ikan (sembunyi-sembunyi dilakukan nelayan) segala. Saya mungkin juga yang termasuk punya andil membuat fishing ground ini semakin merosot, karena di tangan saya pernah mati dua ekor GT kecil saat memancing di perairan ini, habis bagaimana lagi karena perut kedua ikan itu kena treble hook nomor 5/0. Duh maafkan aku Ujung Kulon! Semoga kamu bisa bertahan ya???

* Ikan yellowfin tuna (YFT) yang masing-masing beratnya 79.2 kg dan 57.5 kg yang dipancing oleh pemancing Suwarjono dan Awin Mawardi pada ajang Indonesia Billfish Tournament 1994 di Ujung Kulon. Foto oleh Nursasongko Anwar.